Cendikiawan Rasa Istana Oleh : Elviriadi, Ph.D (anggota Ranting Muhammadiyah Kampar)
Tiba tiba seorang tokoh nasional yang cukup mumpuni, kapable dan punya massa cukup besar meminta rakyat indonesia menghormati hasil Pilpres 2024 yang tengah berlangsung. Digelanggng publik, hiruk pikuk yang mempertanyakan kualitas demokrasi masih terus bergema, termasuk “arus bawah bersilangan” yang justru dari “jamaah” sang tokoh penganjur “mari legowo”.
Begitulah hal ihwan dunia, lintasan sejarahnya selalu diwarnai dengan kemunculan dua titik bersebrangan; para pembawa obor kebenaran dan pengusung kegelapan. Bal’am bin Baura, Walid bin Mughirah dan Abdullah bin Ubay adalah profil kaum kaya ilmu, namun miskin adab dan jumawa. Yang pertama, jelas-jelas bersebrangan dengan nabi Musa ‘alaihissalam dan perjuangannya, lalu bermanis-manis dengan kubangan Fir’aun, penghuni istana raja di raja. Sang hegemonik yang melindas segala akal sehar dan akal budi. Bal’am bin Baura mulanya adalah kolega Nabi Musa as. Bersatu shaff sebagai cendikiawan suluh umat dan peradaban. Genealogi intelektualnya terpecaya, lalu dia dikerubungi pengikut dan menginspirasi gerakan pencerahan. Tetapi diujung cerita hidupnya, ia tertarik pada angka angka, tahta dan jabatan yang mengitari pinggang fir;’aun. Berubahlah fatwa fatwa fiqh dan sosiopolitiknya. Dia pun menjadi benteng justifikasi setiap jengkal kebijakan penguasa. Adakah perbedaan yang cukup gelap antara Fir’aunisme kemarin dan Fir’aunisme kontemporer? Antara Bal’amisme Jadul dan Bal’amisme Milenial? Yang berlomba menghembus lilin kecil kebenaran demi gelap pekat ketidak-adilan?
Abdullah bin Ubay si batang balok yang tersandar (QS. Al Munaafiqun ayat 4), menarik penampilannya dan manis mempesona tutur katanya. Kandidat pemimpin tertinggi Madinah pra hijrah ini yang telah berbunga-bunga hatinya melihat peluang besar, sehingga membuatnya abai akan prinsip Al fadlu liman shadaq (kemuliaan untuk yang jujur) dan dirinya terobesesi oleh pemeo Al fadlu liman sabaq (kemuliaan bagi yang lebih dulu alias aji mumpung), berdasarkan makna senioritas, dan bukan kapabilitas. Ia lupa bahwa sabaqiyah (senioritas) itu menjadi bermakna dengan shidqiyah (ketulusan dan kejujuran). Tetapi penyakit nifaq merasukinya, dan loyalitas pada umat plus aqidah tak dimilikinya. yang tersisa hanya tinggal kepentingan dan mata nyalang melihat uang berlipat tinggi yang bakal pindah ke rekeningnya. Jadilah ia orang yang manis dimuka dan mengutuk dibelakang, beriman di mulut dan kafir didalam hati.
Pada kedua tokoh ini sangat menonjol ambisi terhadap kekayaan, jabatan dan syuhrah (popularitas), tersurat ataupun tersirat. Dalam kamus mereka, kehormatan tak lagi punya tempat dan kejujuran hanya impian orang-orang tolol. Namun madzhab langka ini sekarang menjadi trend dan trending topic. Menjalar ke genaraasi yang baru tumbuh sebagai aktivis, yang baru sehari dua mengenyam kepemimpinan organisasi, dan ada juga yang sudah establish namun tertarik manhaj si Bal’am bin Baura. Maka, menghayati seruan seruan yang entah darimana datangnya, yang mengajak kepala dingin menghadapi keputusan quick qoint dalam Pilpres 2024 ini tentu sulit diterima cendikiawan yang hanif. Entah bagi pengikut setia sejarah kelam “cendikiawan rasa istana”, kedatangan momen Pilpres 2024 kali ini tentu punya makna yang berbeda.
Wahai para ulama, wahai para cendikiawan, pendidik umat, simaklah firman Allah swt dibawah ini,
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ
“Dan bacakanlah kepada mereka berita tentang orang yang telah kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami (pengetahuan tentang isi Al Kitab), kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), Maka jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.” (Q.S. AI-A'raf: 175)
Namun biarlah dramaturgi kontestasi politik Pilpres tahun 2024 ini kita nikmati sembari menunggu putik sunnatullah berbuah jadi bunga sejarah yang adil, Pada masanya. Kelak akan tertapis mana emas mana loyang. Siapa yang teguh djalan dakwah liilaa kalimatillah dan siapa pula yang berjatuhan diantaranya. Sejarah selalu menampilkan “Sirekap” yang jujur, bening dan tulus. Yang mencatat para pejuang seteguh Natsir Setulus Hamka. Karena mereka yakin akhirat lebih utama dan kekal. Sedang kehidupan dunia kesenangan yang sedikit lagi pandai menipu.

